Jumat, 26 Agustus 2011

Askeb Persalinan

Dalam Kehidupannya kodrat sebagai manusia adalah menyambung kehidupan baru dan menjadikan keturunan baru dari yang telah memberi kehidupan sang Maha Hidup "Allah SWT", Tak ada kehidupan kecuali atas kehendaknya.Dan rahmat itu diturunkan kepada seorang wanita yang mampu menyambungkan kehidupan dari yang telah memberikan Kehidupan.
Subbhanallah Betapa Agung ciptaanMU .. 

Persalinan

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Sarwono, 2001 : 100).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesaia, 2001).
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Nazirudin, 1997).
MEMBERIKAN ASUHAN PADA IBU BERSALIN KALA IV

2.1.  Fisiologi Kala IV
Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa – ibu melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar. 
Kala IV adalah terjadi sejak plasenta lahir 1-2 jam sesudahnya,hal-hal ini yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali kebentuk normal. Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan taktil (masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat, perlu juga diperhatikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa sedikitpun dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut.
Setelah persalinan, oksitosin disekresikan dari kelenjar hipofisis posterior dan bekerja pada otot uterus membantu pelepasan plasenta. Setelah pelepasan plasenta, rongga uterus akan menyusut ke dalam dinding uterus yang berada didepannya menekan sisi penempelan plasenta yang baru saja terbuka dan secara efektif menutup ujung pembuluh darah besar yang terbuka. Lapisan otot miometrium dikatakan merangsang kerja pengikatan yang menekan sinus pembuluh darah besar yang terbuka akibat pelepasan plasenta. Proses ini menutup ujung pembuluh darah besar yang terbuka dan selanjutnya membantu mengurangi kehilangan darah. Selain itu, vasokontriksi pada keseluruhan suplai darah ke uterus menyebabkan jaringan menolak suplai darah sebelumnya, sehingga terjadi deoksigenasi dan iskemia.
Setelah plasenta lahir, kadar estrogen, progesteron, human chorionic gonadotrophin, dan human placental lactogen dalam sirkulasi menurun. Hal ini selanjutnya menimbulkan perubahan fisologis pada jaringan otot dan jaringan ikat serta berpengaruh besar pada sekresi prolaktin dari kelenjar hipofisis anterior.
2.2.Evaluasi uterus
Setelah kelahiran plasenta, uterus dapat ditemukan di tengah-tengah abdomen kurang lebih dua per tiga sampai tiga per empat antara simfisis pubis dan umbilikus. Jika uterus ditemukan di bagian tengah, di atas umbilikus, hal itu menandakan adanya darah dan bekuan di dalam uterus, yang perlu ditekan dan dikeluarkan. Uterus yang berada di atas umbilikus dan bergeser, paling umum ke kanan, cenderung menandakan kandung kemih penuh. Kandung kemih penuh menyebabkan uterus bergeser, menghambat kontraksi dan memungkinkan peningkatan perdarahan. Jika ibu tidak mampu buang air kecil secara spontan pada saat ini, kandung kemih sebaiknya dikosongkan oleh kateter untuk mencegah perdarahan berlebihan.
Uterus yang berkontraksi normal harus keras ketika disentuh. Jika segmen atas uterus keras, tetapi perdarahan menetap, pengkajian segmen bawah penting dilakukan. Uterus yang lunak, hipotonik, longgar tidak berkontraksi dengan baik, atoni uterus adalah penyebab utama perdarahan pascapartum segera. Hemostasis uterus yang efektif dipengaruhi oleh kontraksi jalinan serat-serat otot miometrium. Serat-serat ini bertindak sebagai pengikat bagi pembuluh darah terbuka pada sisi plasenta. Pada umumnya, trombus terbentuk dalam pembuluh darah distal pada desidua, bukan dalam pembuluh miometrium. Mekanisme ini (ligasi terjadi dalam miometrium dan trombosis dalam desidua) penting karena dapat mencegah pengeluaran trombus ke sirkulasi sistemik.
2.2.Pemeriksaan serviks, vagina, dan perineum
Serviks, vagina, dan perineum diinspeksi, apakah ada laserasi, edema, dan pembentukan awal hematoma awal. Karena inspeksi serviks dapat menyakitkan bagi ibu, inspeksi dilakukan hanya jika diindikasikan. Segera setelah kelahiran, serviks bersifat patulous atau terbuka, terkulai, dan tebal. Tepi anterior selama persalinan, atau setiap bagian serviks yang terperangkap akibat penurunan kepala janin selama periode yang memanjang, tercermin pada peningkatan edema pada area tersebut. Tonus vagina, juga tampilan jaringan vagina tersebut, dipengaruhi oleh peregangan yang telah terjadi selama kala dua persalinan.
Setelah memastikan uterus  berkontraksi efektif dan perdarahan berasal dari sumber lain, bidan menginspeksi perineum, vagina bawah, dan area periuretra untuk mengetahui adanya edema, pembentukan hematoma, laserasi, atau pembuluh darah yang robek atau mengalami perdarahan. Jika episiotomi telah dilakukan, evaluasi kedalaman dan perluasannya.
Pertimbangkan untuk menginspeksi forniks dan serviks vagina untuk mengetahui laserasi atau cedera. Pada mayoritas kelhiran pervaginam spontan normal, tidak ada indikasi untuk evaluasi ini, sehingga tidak perlu dilakukan. Indikasi untuk pemeriksaan seperti itu mencakup kondisi berikut :
1.         Aliran menetap atau sedikit aliran perdarahan pervaginam berwarna merah terang, dari bagian atas tiap laserasi yang diamati, setelah kontraksi uterus dipastikan.
2.         Persalinan cepat atau presipitatus.
3.         Manipulasi serviks selama persalinan
4.         Dorongan maternal (mengejan) sebelum dilatasi serviks lengkap.
5.         Pelahiran pervaginam operatif dengan forsep atau vakum.
6.         Pelahiran traumatik, misalnya distosia bahu.
Untuk mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus dengan rectal toucher

1.      Derajat pertama: laserasi mengenai mukosa dan kulit perineum, tidak perlu dijahit.
2.      Derajat kedua: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu dijahit).
3.      Derajat ketiga: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani.
4.      Derajat empat: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani yang meluas hingga ke rektum. Rujuk segera.
2.2.Pemantauan dan evaluasi lanjut
Selama satu jam pertama setelah pelahiran, tanda-tanda vital ibu, uterus, lokhia, perineum, dan kandung kemih dipantau dan dievaluasi secara teratur sampai semua stabil dalam kisaran normal. Pemantauan dan evaluasi ini dilakukan setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit satu jam kedua kala empat


2.2.1.   Tanda-tanda Vital
Pemantauan tekanan darah ibu, nadi, dan pernapasan dimulai segera setelah kelahiran plasenta dan dilanjutkan setiap 15 menit sampai tanda-tanda vital stabil pada level sebelum persalinan, atau sampai ditetapkan bahwa ada masalah yang membutuhkan pemantauan yang lebih intensif. Pemantauan tekanan darah dan nadi yang rutin selama interval ini adalah satu sarana mendeteksi syok akibat kehilangan darah berlebihan.(5)
Tekanan darah, nadi dan pernapasan diukur setiap 15 menit sekali pada jam pertama dan setiap 30 menit sekali pada jam kedua. Dan suhu diukur setiap 1 jam sekali.
2.2.1.      Kontraksi Uterus          
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim terdiri dari tiga lapis otot yang membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat tertutup sempurna, dengan demikian terhindar dari perdarahan postpartum.
Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti semula dengan berat 30 gram. Proses proteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui urin. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah persalinan, sehingga hasil pemecahan protein dapat dikeluarkan.(3)
Tonus uterus dan jumlah aliran lokhia dikaji secara simultan dengan masase reguler fundus uterus. Uterus yang berkontraksi dengan baik tidak akan menunjukkan peninngkatan perdarahan ketika masase dilakukan. Sebaliknya, jika uterus memiliki kecenderungan untuk relaksasi dan menjadi lunak, aliran lokhia akan sedang atau banyak. Hal ini dikaji paling mudah dengan secara langsung mengamati peningkatan lokhia atau bekuan sementara memasase fundus. Pengeluaran lochea yang banyak dan persisten ketika fundus berkontraksi dengan baik akan membutuhkan pengkajian lebih lanjut. 

2.2.1.      Indikasi-indikasi untuk Tindakan dan/atau Rujukan Selama Persalinan Kala IV (7)
Penilaian
Temuan dari penilaian dan pemeriksaan
Rencana asuhan atau perawatan
Pendarahan pasca persalinan
Tanda atau gejala atonia uteri :
·    Pendarahan pascapersalinan
·    Uterus lembek dan tidak berkontraksi
1.    Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus.
2.    Segera mulai melakukan kompresi bimanual interna.
3.    Jika uterus sudah mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. Jika uterus sudah berkontraksi, lanjutkan memantau ibu secara ketat.
4.    Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit, minta anggota keluarga melakukan bimanual eksterna sementara penolong memberikan metergin 0,2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat).
5.    Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV.
6.    Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit, bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat rujukan atau sebanyak 1,5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam.
·  Pendarahan pasca persalinan.
·  Vagina peineum, serviks
Tanda atau gejala robekan vagina, perineum, atau serviks :
·       Pendarahan pasca persalinan
·       Plasenta lengkap
·       Uterus berkontraksi
1.    Lakukan pemeriksaan secara hati-hati.
2.    Jika terjadi laserasi derajat satu atau dua lakukan penjahitan
3.    Jika terjadi laserasi derajat tiga atau empat atau robekan serviks:
·  Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau NaCl)
·  Segera rujuk ibu fasilitas dengan kemampuan gawat darurat obstetri.
·  Dampingi ibu ke tempat rujukan.
·  Nadi
·  Tekanan darah
·  Pernafasan
·  Kesehatan dan kenyamanan secara keseluruhan
·  Urin
Tanda atau gejala syok :
·  Nadi cepat, lemah (110 kali/menit atau lebih)
·  Tekanan darah rendah (sistolik kurang dari 90 mmHg)
·  Pucat
·  Berkeringat atau dingin, kulit lembab.
·  Nafas cepat (lebih dari 30 kali/menit)
·  Cemas, kesadaran menurun atau tidak sadar.
·  Produksi urin sedikit (kurang dari 30 cc/jam).
1.    Baringkan miring ke kiri.
2.    Jika mungkin, naikkan kedua tungkai untuk meningkatkan curah darah ke jantung.
3.    Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau NS. Infuskan 1 L dalam 15 sampai 20 menit ; jika mungkin infuskan 2 L dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan ke 125 cc/jam.
4.    Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir.
5.    Dampingi ibu ketempat rujukan.
·    Nadi
·    Urin
·    Suhu tubuh
Tanda atau gejala dehidrasi :
·  Meningkatnya nadi (100 kali/menit atau lebih)
·  Temperatur tubuh daiatas 38°C
·  Urin pekat
·  Produksi urin sedikit (kurang dari 30 cc/jam)
1.    Anjurkan ibu untuk minum
2.    Nilai ulang ibu setiap 15 Menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
3.    Jika kondisinya tidak membaik dalam waktu satu jam, pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau Ns 125 cc/jam.
4.    Jika temperatur tubuh tetap tinggi, ikuti asuhan untuk infeksi (dibawah)
5.    segera rujuk kefasilitas yang memepunyai kemampuan asuhan gawat darurat obstetri.
6.    dampingi ibu ketempat rujukan.
·  Nadi
·  Suhu
·  Cairan vagina
·  Kesehatan dan kenyamanan secara umum
Tanda atau gejala infeksi :
·       Nadi cepat 9110 kali/menit atau lebih)
·       Temperatur tubuh diatas 38°C
·       Kedinginan
·       Cairan vagina yang berbau busuk
1.    Baringkan miring kekiri
2.    Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau NS 125 cc/jam.
3.    Berikan ampisilin 2 gr atau amoksilin 2 gr per oral.
4.    Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan gawat darurat obstetri.
5.    Dampingi ibu ketempat rujukan.
·       Tekanan darah
·       Urin
Tanda atau gejala preeklampsia ringan.
·  Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg
·  Proteinuria
1.    Nilai ulang darah setiap 15 menit (pada saat beristirahat diantara kontraksi dan meneran).
2.    Jika tekanan darah 110 mmHg atau lebih, pasang infus menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL atau NS 125 cc/jam.
3.    Baringkan miring kekiri.
4.    Lihat penatalaksanaan preeklampsia berat.
Tekanan darah
Tanda dan gejala pre-eklampsia berat atau eklampsia :
·  Tekanan darah diastolik 110 mmHg atau lebih.
·  Tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih dengan.
·  Kejang
1.    Baringkan miring kekiri.
2.    Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau normal salin 125 cc/jam.
3.    Jika mungkin berikan dosis awal 4 gr MgSO4 20% IV selama 20 menit.
4.    Berikan MgSO4 40%, 10 gr (5 gr IM pada masing-masing bokong)
5.    Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir.
  • Tonus uteri
  • Tinggi fundus
Tanda dan gejala kandung kemih penuh :
Bagian bawah uterus sulit dipalpasi.
Tinggi fundus diatas pusat.
Uterus terdorong/condong kesatu sisi.
1.    Bantu ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya.
·       Kemudian masase uterus hingga berkontraksi baik.
2.    Jika ibu tidak dapat berkemih, kateterisasi kandung kemihnya dengan teknik aseptik.
·       Kemudian masase uterus hingga berkontraksi baik.
3.    Jika ibu mengalami pendarahan, ikuti langkah-langkah atonia uteri 

 
2.2.  Asuhan Kala IV
Setelah Plasenta Lahir :
1.    Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus berkontraksi baik dan kuat.
2.    Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya, fundus uteri setinggi atau beberapa jari di bawah pusat. hasil pemeriksaan ditulis: “dua jari di bawah pusat”.
3.    Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
4.    Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum .
5.    Evaluasi keadaan umum ibu.
6.    Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama persalinan kala empat di bagian belakang partograf, segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.


Selama dua jam pertama pasca persalinan :
1.    Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan perdarahan yang terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, lakukan observasi dan penilaian lebih sering.
2.    Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setia 30 menit dalam jam kedua kala empat. Jika ada penemuan yang abnormal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian.
3.    Pantau temperatur tubuh ibu satu kali setiap jam selama dua jam pertama pasca persalinan. Jika temperature meningkat pantau lebih sering.
4.    Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam jam kedua pada kala empat.
5.    Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai tonus dan perdarahan uterus,juga bagaimana melakukan pemijatan (rangsangan taktil) jika uterus menjadi lembek.
6.    Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan Bantu ibu untuk mengenakan baju atau sarung yang bersih dan kering,atur posisi ibu agar nyaman. Jaga agar kepala dan tubuh bayi terselimuti dengan baik,berikan bayi kepada ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI.
7.    Jangan anjurkan penggunaan kain pembebat perut selama dua jam pertama pascapersalinan atau hingga ibu sudah stabil. Kain pembebat perut menyulitkan penolong untuk menilai kondisi uterus ibu secara memadai

 
DAFTAR PUSTAKA

  1. Saifuddin, AB, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP
2.      Hapsari, Rahma. 2009. Fisiologi Kala IV. Diakses pada tanggal 2 Maret 2011 pukul 16.25 :
http://superbidanhapsari.wordpress.com/2009-12-14/asuhan-kebidanan-ii/fisiologi-kala-iv/htm
3.      Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Ilmu Kebidanan, Ilmu Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
4.      Fraser, Margareth A. Cooper. 2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC
5.      Varney, Helen.dkk. 2004. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Volume II. Edisi 4. Jakarta: EGC













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar